July 30, 2008
WebAnywhere, Browser Untuk Orang Buta
Browser bernama WebAnywhere itu memungkinkan kaum buta melakukan banyak hal di internet, mulai dari memeriksa jadwal penerbangan pada komputer publik di bandar udara, rute bus, sampai mengetik e-mail di kafe internet.
WebAnywhere dibuat oleh seorang alumnus jurusan ilmu komputer dari Universitas Washington. Aplikasi ini diciptakan sebagai alternatif bagi software berbasis komputer, yang selama ini dipakai untuk memandu orang buta berselancar di internet.
Software berbasis komputer terkenal mahal. Harganya bisa mencapai US$ 1.000 atau sekitar Rp 9,2 jutaan. Di sisi lain, tak banyak komputer publik yang menginstalnya, sehingga orang buta sangat kesulitan mengakses komputer yang tak disertai feedback verbal sebagai pemandunya itu.
Untunglah ada Jeffrey Bigham. Ia menciptakan WebAnywhere yang melayani orang buta dengan berbagai trik keyboard dan panduan lainnya. Hingga saat ini, WebAnywhere masih menjalani ujicoba tahap alfa.
Bigham mengatakan, WebAnywhere pertama kali diujicoba oleh Sangyun Hahn, seorang kandidat doktor di Universitas Washington. "Browser itu masih dalam pengetesan dan dia sudah berhasil berselancar di internet," tutur Bigham.
Browser WebAnywhere adalah browser di dalam browser. Ia tampil berbentuk bar di bagian atas dan samping kiri halaman web. Bagian atasnya menampilkan replika fungsi browser dan antarmuka pembacaan layar (screen reader). Sedangkan bagian sampingnya menampilkan konten web yang dibacakan.
Interaksi antara pengguna dan komputer berlangsung melalui tombol-tombol keyboard. "Ctrl+L" misalnya, akan menggerakkan kursor ke kolom halaman URL. Menekan tombol bawah atas akan memperdengarkan elemen halaman berikut. Sedangkan tombol panah atas membaca elemen sebelumnya.
Tombol "Ctrl+H" berarti melompati judul. "Ctrl+R" melompati baris dalam tabel. "Ctrl+D" untuk melompati kolom. "Page Down" untuk membaca berkelanjutan dari posisi saat ini. "Home" berarti membaca berkelanjutan dari awal halaman. Menekan "Ctrl" saja berarti mendiamkan WebAnywhere dan mem-pause sistem.
Browser ini memang belum sempurna. Namun Lindsay Yazzolino (mahasiswa Universitas Brown, Issaquah, yang bekerja paruh waktu di Universitas Washington) mengatakan ini adalah peningkatan yang besar di tengah minimnya akses komputer bagi orang buta di tempat-tempat umum.
Yazzolino, 19 tahun, yang buta sejak lahir, menemukan bahwa fungsi pencarian masih minim dan panduan pemencetan tombol juga masih sangat sedikit. Meski demikian, ia merasa senang lantaran program itu tersedia secara gratis.
Bigham berharap nanti ada orang yang bisa memperbaiki program berbasis open-source itu, misalnya membuat program pembaca teks untuk berbagai bahasa yang harganya masih mahal. Ia berharap orang lain juga dapat menyempurnakan pencarian agar lebih kompleks, menyediakan suara pemandu yang lebih alami, dan meningkatkan kecepatan suara si pembaca halaman.
DEDDY SINAGA | webanywhere.cs.washington.edu | AP | CTV | SEATTLEPI
BOOKMARK
Screen reader adalah aplikasi software yang mengidentifikasi dan menginterpretasi apa yang sedang ditampilkan di layar. Interpretasi ini lalu dihadirkan kepada pengguna melalui suara, icon suara, atau output braille. (TEMPO Interaktif)







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.