May 8, 2008

Mastel: Proprietary Mahal, Picu Pembajakan


Software open source lebih tepat diaplikasikan di Indonesia dibandingkan software proprietary yang harganya relatif mahal.

Hal ini disampaikan salah satu dewan pengurus harian Masyarakat Telematika Sumitro Rustam kepada Okezone, Kamis (8/5/2008).

"Menurut saya, masyarakat Indonesia itu lebih cocok mengadopsi software open source. Yang saya khawatirkan dengan proprietary adalah mahalnya. Kalau suatu waktu kita nggak punya duit, nggak sanggup membayar, ujung-ujungnya malah nyolong, jadi pembajak," terangnya.

Open source, menurut Sumitro, memiliki kualitas yang sama sehingga menjadi solusi yang handal ketimbang software proprietary yang mahal. "Sayang dong, duit rakyat. Pemerintah kan cuma dapat kewenangan untuk mengelola. Silahkan kelola, tapi jangan lupa disesuaikan dengan masyarakat Indonesia. Kita sesuaikan dengan kemampuan kita, kalau ada yang lebih murah kenapa pilih yang mahal," Sumitro menambahkan.

Menurutnya, keterikatan untuk menggunakan software proprietary untuk Indonesia dinilai kurang cocok di Indonesia. Untuk itu, dia mengakui kecenderungannya memilih open source. "Proprietary software itu untuk orang mampu, nggak usah dipaksakan. Kalau negara kita kaya sih nggak masalah," pungkasnya.

Seperti diketahui software-software proprietary yang beredar di Indonesia dirasa cukup mahal seperti Windows (OEM) USD70, Office 2000 USD600, dan belum termasuk software lain di antaranya adalah Norton Utilities USD60, Adobe Photoshop USD600, CorelDraw sekira USD300, AutoCAD sekira USD600, MS Visual Studio pun harganya lebih dari USD1000. Dibanding harga PC (rakitan) kelas menengah di Indonesia yang rata-rata harganya USD200-USD500 per unit, harga software di dalamnya, bila dibeli secara sah, akan jauh di atas harga hardwarenya.

Harga ini tidak sebanding dengan software open source dan atau Linux yang memiliki harga rata-rata 10 kali lipat lebih murah dibanding proprietary.

Mastel: Jangan Sampai Ketipu Bill Gates

Berkaitan dengan kehadiran Bill Gates hari ini dan esok pada acara Global Leaders Forum (GLF), salah satu dewan pengurus Masyarakat Telematika (MASTEL) Sumitro Rustam, mengaku khawatir akan adanya penekenan perjanjian yang sifatnya merugikan Indonesia.

"Bill Gates datang ke sini, ya nggak apa-apa. Kalau dia datang, ya kita welcome sebagai tamu. Yang penting, jangan sampai ketipu. Misalnya, kita neken (tanda tangan) suatu perjanjian yang mana perjanjian tersebut justru mengikat dan merugikan kita," kata Sumitro Rustam saat dihubungi okezone melalui pesawat telepon, Kamis (8/5/2008). "Ya kalau omongannya bagus, kita terima. Kalau nggak, ya nggak usah diterima, nggak ada masalah kok," imbuhnya.

Event Global Leadership Forum yang diadakan selama dua hari mulai Kamis ini, yang mana dikendarai dan dibiayai oleh Microsoft, dikhawatirkan Sumitro, akan dimanfaatkan oleh pihak Microsoft untuk dijadikan ajang pembuatan perjanjian atau kesepakatan yang mengikat. "Yang aku khawatirkan justru neken-neken apa gitu lho, yang ujung-ujungnya mengikat Indonesia," ujarnya.

Sumitro mengaku, dia khawatir pemerintah melakukan suatu kesepakatan atau perjanjian dengan Microsoft yang bersifat mengikat dan merugikan, terutama terkait dengan penggunaan software proprietary sehingga berakibat pada sebuah peraturan yang sifatnya memaksakan penggunaan software proprietary. Padahal software proprietary dianggap Rustam sebagai software yang tidak cocok untuk digunakan oleh masyarakat di Indonesia karena harganya yang cukup mahal.

Sumitro Rustam dikabarkan akan ikut hadir dalam Lecturer Forum untuk menyaksikan keynote presentation Bill Gates di Indonesia besok

Onno: Bill Gates Gak Penting dan Gak Ngaruh

Kedatangan Bill Gates ke Indonesia menjadi sebuah fenomena tersendiri. Reaksi pemerintah pun dianggap sebagian pengamat IT terlihat berlebihan.

Kedatangan Bill Gates rupanya memberikan harapan cukup besar bagi pemerintah Indonesia. Harapan tersebut tidak hanya berkutat pada pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia (ICT) tapi sampai pada harapan meningkatnya investasi di Indonesia.

Seorang pengamat IT Onno W Purbo menganggap kedatangan Bill Gates bukanlah sebuah hal yang terlalu penting dan tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan ICT di Indonesia. Meskipun dia dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia namun hal itu tidak cukup untuk bisa mendorong ICT tumbuh pesat.

"Rakyat Indonesia itu lebih penting sama harga. Apalagi kalau Bill Gates bisa bikin harga (software) Microsoft di Indonesia jadi murah. Nah, itu baru ok!" ujar pengamat IT yang akrab disapa Kang Onno ini melalui surat elektronik, Rabu (7/5/2008) kemarin. Menurut Onno saat ini harga software Microsoft terbilang cukup mahal. Misalnya saja untuk sistem operasi yang dibandrol hingga USD100 atau sekira satu juta rupiah. Belum lagi harga untuk Microsoft Office yang mencapai USD400.

Harga ini berbeda jauh dibanding software bajakan yang lebih murah 10 kali lipat atau software Open Source yang tergolong free. Padahal saat ini Open Source sedang marak didengungkan sebagai software yang mampu menggantikan Microsoft yang mahal, sekaligus meredam angka pembajakan di Indonesia. Dan kedatangan Bill Gates ini tetap dipercaya Onno bukan sebagai langkah yang memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan ICT apalagi meningkatkan investasi. (Okezone)

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://d-software.org/blog/257-mastel-proprietary-mahal-picu-pembajakan/trackback

Related Entries

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.