January 16, 2008

Software Isi Ulang Lebih Mahal Ketimbang Beli

 

JAKARTA - Melalui strategi prepaid software, atau isi ulang penggunaan Software diharapkan pengguna komputer tidak lagi menggunakan software bajakan. Namun apakah benar prepaid software lebih murah?

Microsoft Indonesia menargetkan hingga Juni nanti akan mampu menjual sekitar 10 ribu paket Microsoft Office (MO) 2007 seiring dengan suksesnya prepaid software yang mereka luncurkan Desember lalu. Bila target ini tercapai, maka besar kemungkinannya sistem penjualan seperti ini akan diterapkan untuk semua produk Microsoft di Indonesia, juga di tingkat ASEAN. Bahkan, tak tertutup kemungkinannya akan menghapus sistem penjualan konvensional–full price product–yang selama ini masih digunakan.

Dari sisi produsen, keampuhan model pemasaran ini dalam mendongkrak penjualan memang tak perlu disangsikan lagi. Tapi sebaliknya bagi kalangan konsumennya, menurut Yuswohadi, pengamat pemasaran dari MarkPlus & Co, bila dicermati lebih jauh, malah lebih merugikan ketimbang membeli secara putus.

Asumsinya, ketika membeli MO 2007 dengan cara full price product, seyogianya bisa digunakan minimal dalam tempo lima tahun. ?Dan lazimnya, setelah lima tahun Microsoft akan mengeluarkan versi software terbarunya,? kata Yuswohadi. Sementara, jika membeli dengan cara pre paid dengan masa penggunaan yang sama, total dana yang akan dihabiskan para penggunanya bisa mencapai US$ 680. Artinya, masih lebih mahal daripada beli putus.

Yuswohadi juga menganggap target konsumen yang dibidik Microsoft dengan strategi ini tidak tepat. Biasanya, para pengusaha UKM akan memasukkan pos pembelian software ke dalam dana investasi. Sementara bila membeli dengan sistem prabayar, mereka harus menganggarkannya secara rutin per tahun. ?Karena itu malah akan memberatkan biaya pengeluaran mereka,? ujarnya.

Lebih dari itu, melihat sifat penggunaannya yang dibatasi dengan waktu, software ini hanya cocok digunakan untuk pekerjaan yang sifatnya juga terbatas (proyek). Padahal, kebanyakan pengusaha UKM di Indonesia jarang menggunakan software yang masa penggunaannya dibatasi. Kecenderungan yang umum terjadi, mereka telah memproyeksikannya dalam jangka waktu penggunaan yang lama, yakni selama bertahun-tahun. Atas pertimbangan ini, Yuswohadi pun ragu bahwa strategi pemasaran yang tengah diterapkan Microsoft itu akan berhasil, alias disambut pasar dengan antusias.

Benarkah akan begitu? Jawaban pastinya, memang masih harus menunggu hasil akhirnya. Toh, pihak Microsoft sendiri baru memperkenalkan strateginya itu ke pasar sejak Desember lampau.

Tapi, jika melihat karakter pasar di negeri ini yang agak unik, bisa jadi, Microsoft akan memetik hasil sesuai targetnya. Kecenderungan yang kerap terjadi selama ini, biasanya pasar tidak peduli akan strategi yang ditawarkan. Yang penting, bagi kebanyakan dari mereka, selain menyangkut kualitas produk juga karena harganya–setidak-tidaknya dirasakan–lebih murah. Tampaknya, dengan nama besarnya yang telah menguasai pasar dunia, Microsoft telah memenuhi syarat itu. (Trust//srn)

Sumber : Okezone.com

7 Muharram 1429 H

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://d-software.org/blog/180-software-isi-ulang-lebih-mahal-ketimbang-beli/trackback

Related Entries

Google
 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.